BOGOR – Menjawab tantangan dunia usaha yang semakin tidak pasti, guru masa kini dituntut untuk tidak sekadar mengajar, tetapi juga memiliki pola pikir kewirausahaan. Membawa semangat transformasi tersebut, pendidik dari SMK Al Hafidz turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan bertajuk "Entrepreneurial Thought and Action: Sukses mendidik, mengajar, dan mencetak lulusan berkarakter wirausaha". Acara strategis ini diselenggarakan pada 30 April 2026, bertempat di Auditorium, Podomoro University dari pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.
Seminar ini menghadirkan jajaran pakar dan praktisi kewirausahaan nasional, di antaranya Wisnu Dewobroto (Tenaga Ahli Deputi Kewirausahaan Kementerian UMKM), Isyak Meirobire, serta Daru Dewayanto (Founder and CEO HADE). Fokus utama diskusi adalah merespons urgensi penguatan kewirausahaan di tingkat sekolah sebagai solusi atas tingginya angka pengangguran usia produktif yang saat ini mencapai 5,32%.
Dalam forum tersebut, ditekankan bahwa keterampilan masa depan (future skill) yang mutlak dibutuhkan siswa vokasi adalah keterampilan berwirausaha. Untuk mewujudkannya, institusi pendidikan membutuhkan sosok "Teacherpreneur", yaitu pendidik yang berjiwa wirausaha dan mampu menumbuhkan karakter tangguh pada siswanya. Peran guru sangat vital mengingat 41% variabel minat wirausaha didukung oleh faktor pendidikan, sementara target rasio kewirausahaan nasional sebesar 8% baru tercapai di angka 3,92%.
Pemaparan materi juga membedah fenomena karakter Generasi Z saat ini. Tercatat 54% Gen Z memiliki rencana untuk membangun bisnis sendiri. Sayangnya, motivasi tersebut kerap kali hanya berorientasi pada hasil instan (Fame and Glory) tanpa kesiapan menghadapi risiko, yang pada akhirnya berkontribusi pada rentannya kesehatan mental remaja. Oleh karena itu, para guru didorong untuk menerapkan pendekatan Challenge-Based Leadership Learning guna membimbing siswa berani keluar dari zona nyaman menuju zona pertumbuhan (Growth Zone).
Proses pembelajaran di SMK Al Hafidz, khususnya pada mata pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan (PKK), diharapkan dapat mengadopsi kerangka TAEL (Thinking and Acting like Entrepreneur Leader) dengan siklus: Act, Learn, Validate, Build, dan kembali beraksi pada Act. Ruang inkubator wirausaha di sekolah harus mengizinkan siswa untuk bereksplorasi, membuat kesalahan, belajar dari kegagalan, serta membangun ketahanan mental dari rapuh (fragile) menjadi tangguh (anti fragile).
Lebih dari sekadar teori, agenda ini juga membahas inisiasi kemitraan program berkelanjutan bernama "Plastic Bank". Program ini dirancang untuk mengubah perilaku warga sekolah terhadap pengelolaan sampah plastik, di mana sekolah akan mendapatkan insentif pendanaan sebesar Rp1.000 per kilogram melalui sistem penjemputan berkala.
Ke depan, manajemen SMK Al Hafidz akan mensinkronkan wawasan dari kegiatan ini dengan analisis Rapor Pendidikan berbasis Perencanaan Berbasis Data (PBD) untuk peningkatan mutu sekolah. Sebagai tindak lanjut konkret, sekolah telah menjadwalkan agenda pendalaman materi kewirausahaan pada 20 Mei mendatang. Puncaknya, pada bulan Agustus, SMK Al Hafidz berencana mengirimkan delegasi siswanya untuk mengikuti pelatihan entrepreneur secara langsung di Universitas Podomoro.


